Sekolah sangat dibutuhkan untuk setiap anak
didik bangsa yang lahir di dunia ini. Dengan sekolah kita mendapatkan berbagai
macam ilmu yang tentunya ilmu itu pasti bisa disalurkan untuk negeri ini. Tapi
apa yang dihadapi oleh anak bangsa? Menerima banyak sekali tanggungan mata
pelajaran. Bobot pelajaran tingkat SMA di Indonesia dianggap terlalu
memberatkan siswa, itu terlihat dengan terlalu banyaknya jumlah mata pelajaran
yang harus dipelajari siswa.
Pendidikan di Indonesia kurikulumnya
terlalu berat, salah satu buktinya adalah mata pelajaran yang terlalu banyak
sehingga pelajar cenderung merasa bingung, lelah, dan tidak bersemangat.
Terlalu banyak mata pelajaran malah akhirnya tidak ada pendalaman, sehingga
kualitas malah justru terbengkalai. Pada tingkat SMA, terdapat 16 mata pelajaran yang harus dipelajari, bahkan
ada yang 18 mata pelajaran, ini sangat jauh berbeda dengan pendidikan SMA di
Singapura yang notabene sebagai salah satu negara dengan pendidikan yang maju.
Di Singapura, siswa hanya diwajibkan mempelajari 4 sampai 6 mata pelajaran yang
berbeda.
Dengan
keadaan yang seperti ini, siswa sulit untuk memahami setiap mata pelajaran. Kalaupun
nilai mata pelajaran siswa - siswi
Indonesia bagus, tetapi para siswa tidak mempunyai suatu pengetahuan yang fokus
untuk mendalami mata pelajaran tersebut. Di Indonesia ini dominan dengan
anak-anak harus mengejar nilai, mendapatkan nilai yang bagus tanpa mementingkan
hal yang lain. Para siswa tidak memiliki cukup waktu untuk memahami semuanya,
sehingga mengambil jalan pintas dengan menghafal, dengan menghafal siswa bisa
mendapatkan nilai bagus, tetapi tidak dengan pemahaman. Dengan cara menghafal,
siswa hanya akan ingat dalam waktu yang relatif singkat, setelah lulus pasti
akan lupa. Kehidupan ini bukan sekadar teori, tetapi setiap orang dituntut agar
dapat memecahkan masalah yang ada di masyarakat yang semakin hari semakin
rumit.
Semestinya
para siswa diberikan kesempatan memilih mata pelajaran yang mereka sukai, dan
dari situ dapat dikembangkan pikiran mereka tentang pelajaran yang mereka
pilih. Jadi mereka mempunyai kesempatan untuk berinovasi dan berkreasi. Guru harus menjadi sosok yang mandiri dan
teladan manusia merdeka yang tidak mudah diintimidasi oleh birokrat pendidikan
dan wali murid. Seperti halnya SMA di Changkat Changi Secondary School
Singapore, sekolah tersebut menerapkan cara belajar seperti itu, dan hasilnya
pun tidak mengecewakan.
Kita
mesti saling bergotong - royong untuk memajukan pendidikan di negara ini dengan
penuh niat dan tekat. Harapan untuk pendidikan negara ini semakin memperdulikan
para siswa yang sangat terbebani dengan mata pelajaran yang sangat banyak,
tidak ada lagi keterpaksaan antara murid dan guru. Masalah pendidikan adalah
masalah utama bagi bangsa dan kita harus menemukan solusi terbaik untuk anak
bangsa. Karena sesungguhnya ilmu yang abadi adalah ilmu yang dipelajari melalui
ketulusan hati untuk belajar dan kejernihan pikiran untuk berpikir hebat.
-Ismu Rijal Fahmi-






